Air sering dianggap biasa ketika mengalir lancar dari kran, sumur, atau sumber mata air. Namun, ketika musim kemarau datang dan pasokan mulai menurun, air langsung menjadi persoalan besar.
Kondisi seperti ini juga pernah dirasakan masyarakat Desa Watulumbung, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan. Tantangan kekeringan dan ketahanan lingkungan di Watulumbung bukan hanya soal bantuan air bersih saat krisis.
Lebih dari itu, isu ini berkaitan dengan cara warga menjaga sumber air, merawat alam, mengatur pemakaian air, serta mempertahankan tradisi lokal yang sejak lama mengajarkan penghormatan terhadap lingkungan.
Watulumbung memiliki hubungan kuat dengan air. Tradisi Selametan Sumber Air di perbukitan Watu Lumbung bahkan dikaji sebagai bentuk kearifan lokal Muslim dalam pengelolaan sumber daya air yang memadukan nilai spiritual, ekologis, dan sosial.
Karena itu, membahas kekeringan di Watulumbung tidak cukup hanya melihat masalahnya. Kita juga perlu melihat potensi ketahanan lingkungan yang bisa dibangun dari budaya, gotong royong, edukasi, dan kerja sama warga.
Mengenal Watulumbung dan Kondisi Lingkungannya
Desa Watulumbung berada di Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Untuk memahami perkembangan wilayah ini, salah satu rujukan penting adalah publikasi Kecamatan Lumbang Dalam Angka 2025 yang diterbitkan BPS Kabupaten Pasuruan sebagai data tahunan untuk mendukung perencanaan pembangunan Kecamatan Lumbang.
Sebagai desa di kawasan Lumbang, Watulumbung memiliki karakter pedesaan yang dekat dengan alam, lahan, sumber air, dan aktivitas masyarakat agraris. Kondisi seperti ini membuat air menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.
Air dibutuhkan untuk minum, memasak, mandi, mencuci, merawat ternak, hingga mendukung kegiatan pertanian. Jika pasokan air terganggu, dampaknya langsung terasa di rumah-rumah warga.
Karena itu, ketahanan lingkungan di Watulumbung tidak bisa dipisahkan dari pengelolaan air. Desa yang kuat secara lingkungan adalah desa yang mampu menjaga sumber air, merawat kawasan resapan, dan menyiapkan langkah menghadapi musim kemarau.
Kekeringan di Watulumbung: Masalah yang Nyata
Kekeringan bukan sekadar isu umum. Di Watulumbung, masalah ini tercatat dalam laporan resmi BPBD Kabupaten Pasuruan.
Pada 2 Juli 2026, BPBD mencatat kejadian kekeringan di Desa Watulumbung, Kecamatan Lumbang, berdasarkan Laporan Harian Pusdalops BPBD periode 1-2 Juli 2026.
Dalam laporan tersebut, kekeringan dipicu oleh berkurangnya ketersediaan air bersih akibat memasuki musim kemarau. Dampaknya dirasakan sekitar 1.022 kepala keluarga di Dusun Mlokolegi dan Dusun Ketondo, Desa Watulumbung.
Sebagai langkah cepat, Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Pasuruan mendistribusikan air bersih sebanyak empat ritase untuk membantu kebutuhan dasar masyarakat terdampak.
Beberapa hari kemudian, pada 6 Juli 2026, BPBD kembali menyalurkan bantuan air bersih untuk warga terdampak kekeringan di Kecamatan Lumbang.
Dalam asesmen tersebut, Dusun Mlokolegi, Desa Watulumbung, termasuk wilayah terdampak dengan 170 kepala keluarga, dan total bantuan yang disalurkan mencapai 20.000 liter air bersih.
Mengapa Watulumbung Rentan Menghadapi Kekeringan?
Kekeringan biasanya terjadi karena beberapa faktor saling bertemu. Ada faktor musim, kondisi geografis, ketersediaan sumber air, perubahan lingkungan, dan pola pemakaian air oleh masyarakat.
Ketika musim kemarau masuk, curah hujan menurun. Jika sumber air tidak cukup kuat atau kawasan resapan mulai terganggu, pasokan air bersih ikut berkurang. Di wilayah pedesaan, kondisi ini bisa langsung memengaruhi banyak keluarga.
Watulumbung juga memiliki kehidupan masyarakat yang sangat bergantung pada air. Selain untuk kebutuhan rumah tangga, air diperlukan dalam aktivitas harian warga.
Jika pasokan menurun, warga tidak hanya kesulitan minum dan memasak, tetapi juga menghadapi kendala kebersihan dan aktivitas ekonomi kecil.
Inilah mengapa ketahanan lingkungan penting. Desa tidak cukup hanya menunggu bantuan air saat kemarau. Perlu ada langkah jangka panjang agar risiko kekeringan bisa dikurangi dari tahun ke tahun.
Tradisi Selametan Sumber Air sebagai Modal Budaya
Salah satu kekuatan Watulumbung adalah tradisi yang berkaitan dengan air.
Dalam artikel ilmiah tentang Selametan Sumber Air di perbukitan Watu Lumbung, tradisi ini dijelaskan sebagai bentuk kearifan lokal Muslim dalam pengelolaan sumber daya air yang terus hidup di tengah modernisasi.
Tradisi ini tidak hanya bermakna ritual. Penelitian tersebut menyebut Selametan Sumber Air menjadi bentuk penghormatan terhadap alam dan sumber air, sekaligus memiliki makna spiritual, sosial, dan ekonomi bagi masyarakat.
Di sinilah budaya lokal bisa menjadi modal ketahanan lingkungan. Sebelum istilah konservasi populer, masyarakat desa sudah punya cara sendiri untuk mengingatkan pentingnya menjaga air. Mereka melakukannya melalui doa, selamatan, gotong royong, dan aturan sosial.
Tradisi seperti ini perlu terus dipertahankan. Namun, agar lebih berdampak, nilai budaya tersebut juga perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata, seperti menjaga kebersihan sumber air, menanam pohon, memperbaiki saluran, dan menghemat pemakaian air.
Bersih Banyu dan Kesadaran Ekologis Warga
Selain Selametan Sumber Air, ada juga tradisi Bersih Banyu yang berkaitan dengan Watu Lumbung. Dalam kajian akademik, tradisi ini dikaitkan dengan hubungan masyarakat dengan air, nilai keagamaan, serta konstruksi sosial warga.
Tradisi Bersih Banyu memperlihatkan bahwa air bukan hanya benda yang dipakai, tetapi juga unsur kehidupan yang dihormati. Dalam masyarakat desa, cara pandang seperti ini sangat penting karena bisa membentuk perilaku warga terhadap lingkungan.
Kalau air dianggap sebagai sumber kehidupan, maka warga akan lebih berhati-hati dalam memperlakukannya. Mereka tidak mudah membuang sampah sembarangan, tidak merusak area sumber air, dan lebih sadar bahwa kerusakan alam akan kembali berdampak pada kehidupan sendiri.
Kesadaran ekologis tidak harus selalu diajarkan dengan bahasa teknis. Di desa, pesan lingkungan bisa masuk melalui tradisi, cerita, dan kegiatan sosial. Inilah kekuatan Watulumbung yang perlu terus dijaga.
Ketahanan Lingkungan Dimulai dari Sumber Air
Ketahanan lingkungan berarti kemampuan desa untuk bertahan dan pulih ketika menghadapi tekanan alam, termasuk kekeringan. Dalam konteks Watulumbung, titik awalnya adalah sumber air.
Sumber air perlu dilindungi dari pencemaran. Sampah, limbah rumah tangga, dan aktivitas yang merusak area sekitar mata air harus dikurangi. Jika kualitas air menurun, dampaknya bisa mengganggu kesehatan warga.
Selain itu, kawasan resapan juga penting. Pohon dan tanaman membantu tanah menyerap air hujan. Jika lahan sekitar sumber air gundul, air hujan akan lebih cepat mengalir ke bawah tanpa sempat tersimpan di tanah.
Menjaga vegetasi bukan hanya urusan penghijauan yang indah dilihat. Ini adalah investasi lingkungan. Semakin baik resapan air, semakin besar peluang sumber air tetap bertahan saat kemarau.
Gotong Royong sebagai Strategi Menghadapi Kekeringan
Di desa, gotong royong adalah kekuatan besar. Untuk menghadapi kekeringan, gotong royong bisa menjadi strategi sosial yang sangat efektif.
Warga bisa bersama-sama membersihkan saluran air, memperbaiki pipa bocor, menjaga kebersihan sumber air, atau menanam pohon di area yang penting bagi resapan. Kegiatan ini tidak selalu membutuhkan biaya besar, tetapi membutuhkan kesadaran bersama.
Gotong royong juga membuat warga merasa memiliki. Jika sumber air dijaga bersama, warga akan lebih mudah saling mengingatkan ketika ada perilaku yang merusak lingkungan.
Dalam situasi krisis, solidaritas juga penting. Ketika ada keluarga yang kesulitan air, warga bisa membantu mengatur distribusi, berbagi informasi, atau mendukung koordinasi dengan pemerintah desa dan BPBD.
Peran Pemerintah Desa dan BPBD
Ketahanan lingkungan tidak bisa hanya dibebankan kepada warga. Pemerintah desa juga punya peran penting dalam perencanaan dan pengelolaan risiko kekeringan.
Pemerintah desa dapat memetakan dusun yang rawan kekurangan air, mencatat titik sumber air, mengawasi kondisi saluran, dan membuat jadwal kerja bakti rutin. Data seperti ini membantu desa bergerak lebih cepat saat musim kemarau mulai terasa.
BPBD Kabupaten Pasuruan sudah menunjukkan peran dalam penanganan darurat melalui distribusi air bersih ke wilayah terdampak. Namun, bantuan darurat sebaiknya menjadi langkah sementara, bukan satu-satunya solusi.
Solusi jangka panjang perlu melibatkan banyak pihak. Pemerintah desa, BPBD, tokoh masyarakat, pemuda, sekolah, kelompok tani, dan warga perlu duduk bersama untuk membangun sistem ketahanan air yang lebih baik.
Edukasi Lingkungan untuk Generasi Muda
Generasi muda Watulumbung punya peran besar dalam menjaga lingkungan. Mereka bisa menjadi jembatan antara tradisi lama dan cara modern dalam mengelola air.
Kajian Selametan Sumber Air menyebut generasi muda memiliki peran strategis dalam transmisi budaya, baik melalui partisipasi langsung maupun pemanfaatan media digital.
Peran ini bisa diperluas ke isu lingkungan. Anak muda bisa membuat konten edukasi tentang hemat air, mendokumentasikan tradisi sumber air, membuat kampanye kebersihan, atau membantu pemetaan titik rawan kekeringan.
Sekolah juga dapat dilibatkan. Siswa bisa belajar tentang pentingnya air melalui kegiatan sederhana, seperti menanam pohon, membersihkan lingkungan, menulis cerita lokal tentang sumber air, atau mewawancarai sesepuh desa.
Langkah Praktis Membangun Ketahanan Air
Ketahanan lingkungan tidak harus dimulai dari program besar. Banyak langkah kecil yang bisa dilakukan secara bertahap.
Pertama, warga bisa membiasakan hemat air. Mematikan kran, memperbaiki kebocoran, memakai air cucian untuk menyiram tanaman tertentu, dan tidak membuang air secara berlebihan adalah contoh sederhana.
Kedua, desa bisa mengadakan kerja bakti rutin di sekitar sumber air dan saluran. Kegiatan ini membantu menjaga kualitas air sekaligus memperkuat kebersamaan warga.
Ketiga, penghijauan perlu diperkuat. Menanam pohon di area resapan dan menjaga tanaman yang sudah ada akan membantu tanah menyimpan air lebih baik.
Keempat, tradisi lokal seperti Selametan Sumber Air bisa dikaitkan dengan aksi lingkungan. Setelah doa bersama, warga bisa melanjutkan dengan bersih sumber air, edukasi hemat air, atau penanaman pohon.
Dari Krisis Menuju Desa yang Lebih Tangguh
Kekeringan memang menjadi tantangan berat. Namun, tantangan ini juga bisa menjadi titik balik bagi Watulumbung untuk membangun ketahanan lingkungan yang lebih kuat.
Jika sebelumnya air hanya dipakai sebagai kebutuhan harian, kini air perlu dilihat sebagai aset desa. Aset ini harus dikelola, dijaga, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Watulumbung sebenarnya memiliki modal yang baik. Ada tradisi sumber air, ada nilai gotong royong, ada kepedulian warga, dan ada dukungan pemerintah ketika terjadi krisis.
Yang dibutuhkan adalah kesinambungan. Jangan hanya bergerak saat air sudah sulit. Justru perawatan harus dilakukan ketika air masih ada, agar desa lebih siap menghadapi kemarau berikutnya.
Tantangan kekeringan dan ketahanan lingkungan di Watulumbung menunjukkan bahwa air adalah bagian paling penting dalam kehidupan desa. Kekeringan yang tercatat pada Juli 2026 menjadi pengingat bahwa pasokan air bersih tidak boleh dianggap remeh.
Watulumbung memiliki modal budaya yang kuat melalui Selametan Sumber Air, Bersih Banyu, dan gotong royong warga.
Modal ini perlu diperkuat dengan langkah nyata seperti menjaga sumber air, menanam pohon, memperbaiki saluran, menghemat air, dan melibatkan generasi muda.
Mari menjadikan kekeringan sebagai pelajaran bersama. Dengan kerja sama warga, pemerintah desa, sekolah, dan lembaga terkait, Watulumbung bisa menjadi desa yang lebih tangguh, lebih sadar lingkungan, dan lebih siap menghadapi musim kemarau.
FAQ
1. Apa penyebab kekeringan di Watulumbung?
Kekeringan di Watulumbung terjadi karena berkurangnya ketersediaan air bersih saat memasuki musim kemarau. Kondisi ini tercatat dalam laporan BPBD Kabupaten Pasuruan pada Juli 2026.
2. Wilayah mana yang terdampak kekeringan di Watulumbung?
Dalam laporan BPBD, dampak kekeringan di Desa Watulumbung dirasakan oleh warga di Dusun Mlokolegi dan Dusun Ketondo. Pada asesmen lanjutan Kecamatan Lumbang, Dusun Mlokolegi juga tercatat sebagai wilayah terdampak.
3. Apa hubungan Selametan Sumber Air dengan ketahanan lingkungan?
Selametan Sumber Air mengajarkan penghormatan terhadap sumber air. Tradisi ini bisa menjadi pengingat budaya agar warga menjaga air, lingkungan, dan solidaritas sosial.
4. Bagaimana cara warga mengurangi risiko kekeringan?
Warga bisa menghemat air, menjaga kebersihan sumber air, menanam pohon, memperbaiki saluran, tidak membuang sampah sembarangan, dan ikut kerja bakti lingkungan.
5. Mengapa generasi muda penting dalam menjaga lingkungan Watulumbung?
Generasi muda penting karena mereka bisa meneruskan tradisi, membuat edukasi digital, menggerakkan kampanye lingkungan, dan membantu desa beradaptasi dengan tantangan zaman.