Seni dan budaya sebuah desa tidak selalu hadir dalam bentuk panggung besar, tarian megah, atau festival yang ramai dikunjungi wisatawan.
Kadang, budaya justru hidup dalam hal-hal sederhana: cara warga menjaga sumber air, tradisi selametan, cerita tentang tokoh lokal, kebiasaan gotong royong, sampai nilai sopan santun yang diajarkan dari rumah ke rumah.
Begitu juga dengan seni dan budaya Desa Watulumbung yang masih terjaga. Desa ini berada di Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Dalam beberapa kajian dan sumber, nama wilayah ini juga sering ditulis sebagai Watu Lumbung.
Watulumbung dikenal menarik karena memiliki tradisi yang berkaitan dengan air, alam perbukitan, kehidupan agraris, serta kisah lokal yang masih melekat dalam memori masyarakat.
Membahas budaya Watulumbung berarti melihat bagaimana masyarakat desa merawat hubungan dengan alam dan leluhur.
Meski sumber tertulis tentang kesenian khusus di Watulumbung masih terbatas, jejak budaya lokalnya dapat dibaca dari tradisi Bersih Banyu, Selametan Sumber Air, cerita Mbah Sumpil, dan kehidupan sosial warga yang masih kuat.
Mengenal Desa Watulumbung dan Karakter Budayanya
Desa Watulumbung merupakan salah satu desa di Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan.
BPS Kabupaten Pasuruan menerbitkan Kecamatan Lumbang Dalam Angka 2025 sebagai publikasi resmi yang memuat data wilayah Kecamatan Lumbang untuk kebutuhan perencanaan dan pembangunan daerah.
Karakter budaya Watulumbung tidak bisa dilepaskan dari kondisi Kecamatan Lumbang yang cenderung pedesaan.
Data lama BPS menyebut Kecamatan Lumbang sebagai daerah dataran tinggi dan lahan kering yang lebih berkembang di sektor pertanian, sementara pemenuhan air minum masyarakat banyak mengandalkan sumber mata air terlindung yang disalurkan melalui pipa ke desa-desa.
Dari gambaran ini, kita bisa memahami mengapa budaya air begitu penting di Watulumbung. Bagi masyarakat desa, air bukan sekadar kebutuhan harian. Air adalah bagian dari kehidupan sosial, pertanian, tradisi, dan spiritualitas.
Budaya Watulumbung lahir dari hubungan dekat antara manusia dan alam. Karena itu, bentuk budayanya tidak selalu berupa seni pertunjukan formal, tetapi juga ritual, doa bersama, cerita rakyat, nilai gotong royong, dan cara warga menjaga sumber kehidupan.
Tradisi Bersih Banyu sebagai Warisan Budaya Lokal
Salah satu budaya lokal yang paling sering dikaitkan dengan Watu Lumbung adalah tradisi Bersih Banyu. Penelitian UIN Maulana Malik Ibrahim Malang membahas tradisi Bersih Banyu di kalangan Muslim perbukitan Watu Lumbung, Lumbang, Pasuruan.
Dalam penelitian tersebut, tradisi ini dijelaskan memiliki keunikan karena memperlihatkan pertemuan unsur kepercayaan pra-Islam dan Islam, dengan peran sentral tokoh bernama Mbah Sumpil.
Bersih Banyu dapat dipahami sebagai tradisi yang berkaitan dengan air, doa, penghormatan, dan kebersamaan warga.
Dalam masyarakat perbukitan, air menjadi sumber hidup yang sangat penting. Karena itu, membersihkan atau merawat sumber air bukan hanya pekerjaan fisik, tetapi juga bagian dari laku budaya.
Tradisi ini menarik karena menggabungkan nilai spiritual dan sosial. Warga tidak hanya berkumpul untuk mengikuti prosesi, tetapi juga memperkuat hubungan antaranggota masyarakat.
Ada rasa kebersamaan yang tumbuh ketika orang-orang datang, berdoa, dan menjaga sumber air bersama.
Dalam konteks seni budaya, Bersih Banyu bisa dilihat sebagai “seni hidup” masyarakat desa. Di dalamnya ada tata cara, simbol, cerita, doa, dan ekspresi rasa syukur. Semua itu membentuk identitas lokal yang membedakan Watulumbung dari desa lain.
Selametan Sumber Air dan Kearifan Lokal Warga
Selain Bersih Banyu, Watulumbung juga dikenal melalui tradisi Selametan Sumber Air. Artikel ilmiah di Jurnal Ilmiah Gema Perencana menjelaskan bahwa Selametan Sumber Air di perbukitan Watu Lumbung merupakan bentuk kearifan lokal Muslim dalam pengelolaan sumber daya air.
Tradisi ini disebut terus berkembang di tengah modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat.
Selametan Sumber Air memperlihatkan bahwa masyarakat tidak hanya memakai air, tetapi juga menghormatinya. Ada kesadaran bahwa air harus dijaga agar kehidupan desa tetap berjalan. Dalam tradisi ini, nilai spiritual, ekologis, dan sosial bertemu dalam satu kegiatan.
Dari sisi budaya, selametan menjadi ruang pertemuan warga. Orang-orang berkumpul, berdoa, berbagi makanan, dan mengingat kembali pentingnya sumber air. Kegiatan seperti ini membuat hubungan sosial menjadi lebih hangat.
Tradisi ini juga menjadi cara masyarakat menyampaikan pesan lingkungan. Tanpa harus memakai istilah modern seperti “konservasi”, warga sebenarnya sudah punya cara sendiri untuk mengajarkan pentingnya menjaga alam.
Pesannya sederhana: kalau sumber air rusak, kehidupan desa ikut terganggu.
Mbah Sumpil dan Cerita Tokoh Lokal
Dalam tradisi lokal, tokoh masyarakat sering menjadi bagian penting dari cerita budaya. Di Watu Lumbung, nama Mbah Sumpil muncul dalam penelitian tentang Bersih Banyu sebagai figur sentral dalam konstruksi sosial dan spiritual masyarakat.
Tokoh seperti Mbah Sumpil biasanya tidak hanya dikenang sebagai nama. Ia menjadi simbol ingatan kolektif. Masyarakat mengaitkannya dengan nilai, tradisi, tempat, atau peristiwa tertentu yang dianggap penting.
Cerita tokoh lokal seperti ini adalah bagian dari budaya lisan. Ia mungkin tidak selalu tertulis rapi dalam dokumen resmi, tetapi hidup dalam cerita warga.
Orang tua menceritakannya kepada anak, sesepuh menyampaikannya dalam obrolan, dan generasi muda mengenalnya dari tradisi yang masih berjalan.
Inilah salah satu kekayaan budaya desa. Cerita bukan hanya hiburan, tetapi juga alat untuk menyimpan identitas. Dengan mengenal tokoh lokal, masyarakat merasa lebih dekat dengan sejarah kampungnya sendiri.
Seni dalam Ritual: Doa, Simbol, dan Tata Cara
Ketika berbicara tentang seni, banyak orang langsung membayangkan tari, musik, lukisan, atau pertunjukan. Padahal dalam budaya desa, seni juga bisa muncul dalam ritual.
Ada seni menyusun tata cara, seni berbicara dengan bahasa halus, seni memimpin doa, hingga seni menjaga suasana kebersamaan.
Dalam tradisi Bersih Banyu dan Selametan Sumber Air, unsur seni tampak dalam simbol dan prosesi. Cara warga berkumpul, menyiapkan perlengkapan, mengatur jalannya acara, dan menyampaikan doa menunjukkan adanya tatanan budaya yang diwariskan.
Seni seperti ini sering disebut sebagai seni tradisi yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Ia tidak dibuat khusus untuk tontonan, melainkan untuk memperkuat makna. Karena itu, nilainya justru terasa lebih dekat dengan masyarakat.
Di Watulumbung, seni dalam ritual air menjadi ekspresi rasa syukur. Warga tidak hanya menjaga sumber air secara fisik, tetapi juga memberi makna spiritual dan sosial pada kegiatan tersebut. Inilah yang membuat budaya lokal tetap terasa hidup.
Gotong Royong sebagai Budaya yang Masih Kuat
Budaya Watulumbung juga terlihat dari nilai gotong royong. Dalam masyarakat desa, gotong royong bukan sekadar kegiatan membantu tetangga. Ia adalah cara hidup yang membuat warga merasa saling terhubung.
Dalam tradisi yang berkaitan dengan air, gotong royong sangat penting. Sumber air tidak bisa dijaga oleh satu orang saja. Perlu kerja bersama untuk membersihkan, merawat, dan memastikan air tetap bisa digunakan banyak orang.
Gotong royong juga biasanya hadir dalam kegiatan sosial lain, seperti hajatan, perbaikan jalan, kegiatan keagamaan, dan urusan lingkungan. Nilai seperti ini membuat masyarakat desa memiliki ikatan yang kuat.
Di tengah perubahan zaman, gotong royong menjadi warisan budaya yang perlu dijaga. Ketika kehidupan makin individualis, kebiasaan saling membantu justru menjadi kekuatan sosial yang mahal.
Watulumbung memiliki modal budaya ini karena tradisi lokalnya masih menempatkan kebersamaan sebagai hal penting.
Budaya Agraris dan Makna Lumbung dalam Kehidupan Desa
Nama Watulumbung sendiri menyimpan nuansa budaya agraris. Dalam bahasa Jawa, “watu” berarti batu, sedangkan “lumbung” identik dengan tempat menyimpan hasil panen.
Meski asal-usul nama secara resmi masih perlu penelitian lebih lanjut, makna lumbung sangat dekat dengan kehidupan masyarakat desa.
Lumbung dalam budaya Jawa bukan hanya tempat menyimpan padi. Ia melambangkan kecukupan pangan, kerja keras, dan kesiapan menghadapi masa sulit.
Masyarakat agraris biasanya sangat menghargai hasil bumi karena mereka tahu proses menanam dan memanen tidak mudah.
Di kawasan Lumbang, sektor pertanian memiliki posisi penting. BPS menyebut wilayah Kecamatan Lumbang lebih berkembang di sektor pertanian dibanding sektor industri karena karakter dataran tinggi dan lahan keringnya.
Budaya agraris seperti ini memengaruhi cara hidup warga. Mereka terbiasa membaca musim, menjaga tanah, memanfaatkan air, dan bekerja bersama. Dari sinilah lahir nilai kesabaran, ketekunan, dan rasa syukur yang menjadi bagian dari budaya Watulumbung.
Pendidikan dan Pewarisan Nilai Budaya
Budaya akan bertahan kalau dikenalkan kepada generasi muda. Di sinilah pendidikan punya peran penting.
Pemerintah Kabupaten Pasuruan mencatat SDN Watulumbung III sebagai lembaga pendidikan dasar di wilayah Kecamatan Lumbang yang menanamkan nilai kemandirian dan budi pekerti luhur dalam proses belajar-mengajar, serta menekankan suasana pendidikan yang kaya nilai budaya lokal.
Sekolah dapat menjadi ruang untuk mengenalkan tradisi lokal kepada anak-anak. Mereka tidak hanya belajar pelajaran umum, tetapi juga mengenal cerita desa, tradisi sumber air, nilai gotong royong, dan pentingnya menjaga lingkungan.
Pewarisan budaya tidak harus selalu dilakukan dengan cara formal. Guru bisa mengajak siswa menulis cerita tentang desa, mewawancarai orang tua, membuat dokumentasi foto tradisi, atau belajar tentang sumber air di sekitar tempat tinggal.
Dengan cara seperti ini, budaya Watulumbung tidak hanya menjadi cerita orang tua. Anak muda juga bisa merasa memiliki dan bangga terhadap warisan desanya.
Tantangan Menjaga Budaya di Tengah Modernisasi
Budaya lokal selalu menghadapi tantangan. Salah satunya adalah modernisasi. Anak muda sekarang lebih akrab dengan media sosial, konten digital, dan gaya hidup cepat. Jika tradisi tidak dikenalkan dengan cara menarik, lama-lama bisa dianggap kuno.
Kajian tentang Selametan Sumber Air di Watu Lumbung juga menyoroti tantangan modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat. Tradisi ini dinilai perlu terus dijaga agar tetap relevan dan berkelanjutan.
Selain modernisasi, tantangan lain adalah lingkungan. Pada 2 Juli 2026, BPBD Kabupaten Pasuruan mencatat kekeringan di Desa Watulumbung, Kecamatan Lumbang, yang berdampak pada warga di Dusun Mlokolegi dan Dusun Ketondo.
BPBD kemudian menyalurkan air bersih sebagai langkah penanganan.
Fakta ini membuat budaya air di Watulumbung semakin penting. Tradisi menjaga sumber air bukan hanya warisan lama, tetapi juga relevan untuk menghadapi persoalan hari ini. Budaya lokal bisa menjadi pengingat bahwa lingkungan harus dijaga bersama.
Cara Melestarikan Seni dan Budaya Watulumbung
Melestarikan budaya tidak harus menunggu acara besar. Warga bisa memulainya dari hal sederhana. Cerita tentang tradisi, tokoh lokal, sumber air, dan sejarah desa bisa ditulis, direkam, lalu dibagikan kepada generasi muda.
Pemerintah desa, sekolah, komunitas pemuda, dan tokoh masyarakat bisa bekerja sama membuat arsip budaya Watulumbung. Misalnya, dokumentasi Bersih Banyu, wawancara dengan sesepuh, foto sumber air, atau catatan tentang perubahan desa dari masa ke masa.
Media digital juga bisa dimanfaatkan. Artikel blog, video pendek, konten edukasi, dan arsip online dapat membantu memperkenalkan budaya Watulumbung ke masyarakat lebih luas.
Namun, penyajiannya tetap perlu menghormati nilai lokal agar tradisi tidak berubah menjadi sekadar tontonan.
Yang paling penting, budaya harus tetap hidup di tengah masyarakat. Selama warga masih menjalankan tradisi, menghormati sumber air, menjaga gotong royong, dan mengenalkan cerita desa kepada anak-anak, seni dan budaya Watulumbung akan tetap terjaga.
Seni dan budaya Desa Watulumbung yang masih terjaga terlihat dari tradisi Bersih Banyu, Selametan Sumber Air, cerita Mbah Sumpil, budaya agraris, gotong royong, dan nilai lokal yang diwariskan antar generasi.
Budaya Watulumbung tidak selalu tampil dalam bentuk pertunjukan besar, tetapi hidup dalam ritual, cerita, doa, dan cara masyarakat menjaga alam.
Di tengah modernisasi dan tantangan lingkungan, warisan budaya seperti ini semakin penting untuk dirawat. Watulumbung punya identitas yang kuat sebagai desa yang dekat dengan air, alam, dan tradisi.
Mari ikut menjaga budaya lokal dengan cara menulis, mendokumentasikan, mengajarkan, dan menghargai cerita desa agar tetap hidup untuk generasi berikutnya.
FAQ
1. Di mana Desa Watulumbung berada?
Desa Watulumbung berada di Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur.
2. Apa budaya khas Desa Watulumbung?
Budaya yang banyak dikaitkan dengan Watulumbung adalah tradisi Bersih Banyu, Selametan Sumber Air, cerita tokoh Mbah Sumpil, gotong royong, dan budaya agraris.
3. Apa itu tradisi Bersih Banyu?
Bersih Banyu adalah tradisi masyarakat Watu Lumbung yang berkaitan dengan air, doa, nilai spiritual, dan solidaritas warga.
4. Mengapa sumber air penting dalam budaya Watulumbung?
Sumber air penting karena menjadi kebutuhan utama warga sekaligus bagian dari tradisi, spiritualitas, pertanian, dan identitas masyarakat.
5. Bagaimana cara melestarikan budaya Watulumbung?
Budaya Watulumbung bisa dilestarikan melalui dokumentasi tradisi, pendidikan lokal, keterlibatan generasi muda, arsip digital, dan pelaksanaan tradisi secara berkelanjutan.